Chat with us, powered by LiveChat

Remitansi Dan Layanan Keuangan Digital

 

Remitansi (transfer uang internasional) merupakan aktivitas ekonomi yang berdampak ekonomi besar. Laporan statistik Bank Dunia pada 2014 memperlihatkan kontribusi remitansi di beberapa negara mencapai lebih dari 20% PDB mereka. Di Indonesia, jumlah remitansi masuk di 2015 mencapai $9.631 juta, sementara remitansi keluar sebesar $836 juta. Jumlah remitansi masuk per Oktober 2016 kemudian meningkat menjadi $9.842 juta. Jumlah remitansi masuk ini memiliki potensi yang besar dalam menggerakkan perekonomian.

Berbeda dengan bantuan ekonomi internasional, remitansi menjangkau dan berdampak langsung terhadap individu-individu rumah tangga. Sebagai contoh, mereka yang manjadi pekerja migran akan mengirimkan uangnya secara berkala kepada keluarganya di Indonesia. Uang ini tentunya akan dapat digunakan secara langsung untuk meningkatkan taraf hidup dan perekonomian keluarga pekerja migran tersebut.

Kendala Remitansi Selain keandalan layanan dan nilai tukar, dua hal lain yang menjadi perhatian pengguna layanan remitansi yakni mahalnya biaya pengiriman dan aksesibilitas pencairan. Sebagai contoh di Australia, biaya remitansi ke Indonesia melalui perbankan berkisar AUD 20-32. Kisaran biaya serupa juga diterapkan layanan global remitansi non-bank. Namun, ada juga layanan global yang bekerjasama dengan layanan keuangan digital (LKD) di Indonesia membebankan biaya remitansi rendah dengan limit remitansi per hari yang masih terbatas. Selain itu, ada beberapa layanan lokal berbiaya murah.

Pencairan uang dapat dilakukan di bank atau agen remitansi. Aksesibilitas menjadi permasalahan ketika pengguna jasa adalah mereka yang memiliki kerabat dan sahabat di daerah yang belum terakses jasa perbankan. Sebagai contoh, setiap bulan Ramadhan, puluhan miliar dana mengalir dari pekerja Indonesia di luar negeri ke desa-desa di Jawa.

Layanan Keuangan Digital LKD mengintegrasikan pelayanan bank dan teknologi informasi dan komunikasi (telepon seluler dan/atau web). Layanan ini awalnya diterapkan dengan didasari statistik bahwa jumlah penduduk yang memiliki akses telekomunikasi melalui telepon seluler lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang memiliki akses perbankan.

Bagaimana biaya remitansi dapat dikurangi melalui LKD? Pertama, LKD memungkinkan pembagian biaya beserta keuntungan antara perbankan dan operator telekomunikasi. LKD memberikan keuntungan bagi operator telekomunikasi berupa tambahan sumber pendapatan, loyalitas pelanggan serta potensi penghematan operasional dan distribusi airtime. Dengan demikian mereka juga akan menanggung sebagian biaya operasional proses remitansi. Sementara itu perbankan juga mendapat keuntungan dari sisi penghematan operasional, penetrasi layanan, dan loyalitas pelanggan.

Kedua, efisiensi administrasi dan teknologi. Proses registrasi, verifikasi, dan administrasi remitansi dapat dilakukan oleh operator telekomunikasi, sementara pihak perbankan fokus pada manajemen dana. LKD juga meningkatkan aksesibilitas, karena pencairan dana tidak perlu melalui bank, tetapi dapat dilakukan melalui jaringan agen. Biaya yang berkaitan dengan remitansi juga berpotensi dikurangi melalui integrasi ATM dengan telepon seluler. Pencairan dana dapat dilakukan tanpa menggunakan kartu (nirkartu) dengan menggunakan PIN yang diberikan oleh operator telekomunikasi. Melalui ATM nirkartu, biaya yang diperlukan untuk memberikan insentif kepada jaringan agen dapat dikurangi.

Pemanfaatan LKD merupakan salah satu solusi yang dapat diterapkan untuk mempercepat remitansi berbiaya murah. Model seperti ini sukses diterapkan di banyak negara Afrika (seperti Burkina Faso, Kenya, Mali, dan Senegal) yang memiliki penduduk lebih dari separuh populasi tersebar di wilayah pedesaan dan belum tersentuh akses bank. Beberapa operator telekomunikasi di Indonesia saat ini sudah menjembatani layanan remitansi bekerjasama dengan operator remitansi global. Biaya remitansi yang dibebankan relatif lebih rendah dari layanan remitansi perbankan. Setiap pemanfaatan teknologi tentunya memiliki risiko yang harus dikelola dengan tepat. Resiko-resiko seperti keamanan sistem, keandalan sistem, keperilakuan pengguna serta jaringan agen, dan likuiditas jaringan agen memerlukan penanganan yang ekstra cepat dari operator (perbankan dan telekomunikasi), koordinasi yang baik antar operator, serta regulasi yang tepat dan ketat dari regulator (Otoritas Jasa Keuangan). Tanpa manajemen yang tepat untuk hal-hal di atas, potensi risiko LKD bisa menjadi lebih besar dari manfaat yang diperoleh.

Sumber : tirto.id

Please share this

Leave a Reply

Close Menu