Chat with us, powered by LiveChat

Indonesia Kekuatan Ekonomi Dunia ke 5 Tahun 2030, Bisakah?

Indonesia bakal berada di peringkat 5 dari 32 negara yang diproyeksikan jadi kekuatan ekonomi terbesar dunia tahun 2030. Proyeksi Pricewaterhouse Coopers (PwC) itu ditelisik dari produk domestik bruto (PDB/ GDP) tiap negara sesuai paritas daya beli (purchasing power parity –PPP). Empat negara teratas, Jepang 5,6 triliun dolar AS; India 19,51; Amerika Serikat 23,47; dan China 38 triliun dolar AS. Seoptimistis itukah dunia menilai geliat Indonesia?

 

Dengan perkiraan PDB 5.424 triliun dolar AS, Indonesia mengungguli Rusia, Jerman, Brasil, Meksiko, Inggris, dan Perancis. Padahal potensi ekonomi dunia yang lebih dikenal malah BRIC (Brasil, Rusia, India, China). Mengapa Rusia dan Brasil bisa tersalip Indonesia?   

 

Setelah Perancis,  21 negara ber-PDB di bawah 3 triliun dolar AS adalah Turki, Arab Saudi, Korsel, Italia, Iran, Spanyol, Kanada, Mesir, Pakistan, Nigeria, Thailand, Australia, Filipina, Malaysia, Polandia, Argentina, Bangladesh, Vietnam, Afsel, Kolombia, dan Belanda.

 

Dalam The long view: how will the global economic order change by 2050?, laporan pemeringkatan 32 negara berdasarkan nilai konstan 2016 itu, PwC menemukan selama 13 tahun terakhir beberapa negara ternyata bertahan di daftar teratas. Tapi tak sedikit negara yang tergelincir. Tren itu akan berfluktuasi hingga tahun 2030. Seperti apakah dinamika perekonomian global itu?

 

Ekonom Inggris Angus Madison dalam Monograph 2007: Contours of the World Economy in 2030 AD, punya temuan 10 peringkat teratas yang sama. Yang menarik malah temuan Proyek Statistik Madison atas 15 ekonomi terbesar dari PDB/PPP sesuai Statistik Sejarah Ekonomi Dunia: 1-2008 AD. Ternyata Indonesia selalu masuk 15 besar sejak era kolonial Hindia Belanda. Tahun 1870 peringkat 11; juga 1880. Tapi 1900 turun ke 12. 1910 kembali 11, juga 1920. 1930 naik 10, 1940 tetap. Begitu merdeka  tahun 1950 anjlok 14. Juga 1960. Tahun 1970 akibat gejolak 1965 tergusur dari 15 besar. Lalu trends membaik tahun 1980 dari 14, 1990 naik ke 13, 2000 ke 12, 2010 jadi 11. Mungkin itu pertanda, bukan mustahil 13 tahun lagi jadi peringkat 5. Realistiskah?

 

Besaran populasi ternyata ikut menentukan peringkat. Berarti consumption lead growth. Mumpung dikaruniai bonus demografi, mampukah SDM kita mengolah SDA dan semua potensi, termasuk prospek “Ekonomi Syariah”?

Studi Pricewaterhouse Coopers (PwC) menjadi angin segar bagi negara berkembang. Khususnya Indonesia. Diprediksi Indonesia akan menempati urutan kelima ekonomi terbesar dunia pada 2030, dan angkat naik ke urutan empat pada 2050. Lantas bagaimana kita menyikapi studi ini? Bagaimana dampaknya terhadap kehidupan masyarakat kita? Apakah sejahtera?

Urutan ekonomi di atas didasari pada Produk Domestik Bruto (PDB), disesuaikan dengan daya beli masyarakat di masing- masing negara/ Purchasing Power Parity (PPP). Contoh klasik ilustrasi PPP; Harga BigMac di Amerika Serikat adalah 5 dolar AS, kurs 1 dolar Rp13.000. Maka harga BigMac ekuivalen Rp65.000. Kalau harganya di Indonesia jadi Rp32.000, maka PPP adalah 2 (Rp65.000 : Rp. 32.500). Jadi nominal PDB kita saat ini 1 triliun dolar AS, maka nilai PDB/PPP setara dengan 2 triliun dolar AS.

Beberapa hal yang perlu dicermati dari studi PwC, antara lain berdasarkan PDB Indonesia telah berada di urutan ke-8 ekonomi besar dunia pada 2016. Bukan hal yang mustahil jika pada 2030 naik ke urutan lima dan empat di 2050. Dengan catatan semua asumsi di model pembangunan PwC terealisasi untuk 34 tahun ke depan. Asumsi ini berdasarkan kondisi 2016, sebagai starting point pertumbuhan ekonomi sejak 2000 (tren historisnya mempunyai peran yang cukup besar untuk proyeksi mendatang).

Ekstrapolasi studi ini mempunyai kelemahan mendasar. Kalau studi ini dilakukan pada akhir 1970-an, maka China tidak akan diperhitungkan menjadi nomor dua atau satu ekonomi dunia pada 2020 (50 tahun proyeksi). Ekonomi China pada waktu itu sangat terpuruk, mata uangnya terdepresiasi sangat tajam. Namun faktanya ekonomi China saat ini menepati urutan pertama. Sebaliknya, Jepang dengan pertumbuhan ekonomi tinggi dalam periode 1950-1980, dengan metode PwC harusnya Jepang di urutan pertama sekarang. Dengan kata lain apakah prediksi PwC benar? Tergantung dari banyaknya variabel yang tidak terkontrol. Bisa saja terjadi banyak kejutan dalam 34 tahun ke depan.

Kedua, Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat dunia. Tidak heran jika Indonesia menepati urutan empat ekonomi dunia pada 2050. Menurut Studi PwC pertumbuhan ekonomi juga beriringan dengan jumlah penduduknya (di luar Pakistan, Nigeria, dan Bangladesh). Karena salah satu parameter PwC adalah (peringkat) jumlah penduduk.

PDB sangat abstrak nilai nominalnya. Menyebut PDB dengan Market Exchange Rate (MER) sepertinya lebih membumi/dapat dimengerti. Berdasarkan MER, saat ini Indonesia urutan ke-16 dunia. Menurut studi PwC berdasarkan PDB (MER) urutannya akan naik menjadi ke-9 dunia pada 2030 dan urutan keempat pada 2050. Ini dapat terjadi bila pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai rata-rata 6,2 persen per tahun, dengan catatan pertumbuhan ekonomi rill konstan.

Namun peningkatan peringkat ekonomi berdasarkan PDB belum tentunya berdampak pada peningkatan kesejahteraan penduduknya. Sebagai contoh India yang diprediksi menempati urutan ketiga ekonomi dunia pada 2050, namun pendapatan perkapita penduduknya masih di bawa kategori sejahtera. Studi yang dilakukan PwC tidak menampilkan pendapatan perkapita.

 

 

Please share this

Leave a Reply

Close Menu